Blog ini seperti eskampiun….

Umumnya, orang-orang akan mengharapkan menikah satu kali seumur hidup, right?

Dan apa jadinya jika kita sebagai orang yang TERDEKAT dan DIUNDANG, tidak bisa menghadiri acaranya yang hanya sekali seumur hidup itu?

OK, rasa penyesalan akan hadir ketika tidak bisa menghadiri acara pernikahan seorang teman kita, apalagi teman yang SANGAT DEKAT, entah itu disebut sahabat atau apalah apalah. Rasa penyesalan itu akan hilang dan kemudian muncul lagi tatkala melihat foto mereka dipajang di sosmed. Arrgghhh.. Itu menyedihkan. Sebenarnya, saya nggak mau bahas ini. Tapi, nggak papa lah, biar jadi pelajaran untuk kita semua (terutama saya).

– Pernikahan Kak Icha (2013)

Perencanaannya udah mateng, sampai dibeliin jilbab seragam. Udah mikirin besok itu mau pakai baju seragam yang mana. Tau-tau pas hariH, adaaaaa aja yang terjadi. yang inilah yang itu lah. Jadinya, ya gitu deh.

*image not found*

Kejadiaanya sudah dua tahun yang lalu. Sampai sekarang sih, saya belum pernah bertemu dengan kak Ocha, paling bertemu dengan adik-adiknya dan alhamdulillah, mereka maklum atas ketidak bisa hadiran saya.

– Pernikahan Teman Masa Kecil:
kak Ulva (Nov 2013)

Ada yang pernah main bataliyon? main cik mancik (petak umpet)? main kartu? main masak-masak dengan batu bata? main jual-jualan dengan uang daun atau robekan kertas? mainnya hingga sore hari? walaupun hujan permainan tetap dilanjutkan? pulang SD bareng? sama-sama ikut drumband? ikut lomba ambil koin di dalam tepung pas agustusan?

Kami bermain seperti normalnya anak-anak yang lain. Ya, aku menghabiskan masa kanak-kanak hingga anak-anak dengan kakakku yang satu ini. Kebetulan rumah kami berdekatan = tetanggaan. Sejak Kak Ulva melanjutkan sekolah ke MTsN, kami mulai jarang bertemu, karena beliau pulang selalu sore. SMA, kami mulai terpisahkan oleh kota. Dia di Bukit Tinggi dan saya tetap di Padangpanjang. Hingga beliau melanjutkan kuliah di Jakarta dan saya di Pekanbaru. Oia, kenapa saya memanggil ‘Kak’?, karena kami beda 1 tingkat dalam bidang pendidikan. Jika saya kelas satu, beliau kelas dua, begitu seterusnya.

Pas pulang beberapa hari ke Padangpanjang di pertengahan bulan Oktober 2013, dapat info kalau kak Ulva ini akan menikah di bulan November. Dan saya tidak mungkin akan kembali ke Padangpanjang dalam waktu yang dekat (hemat ongkos, beb), dan juga saya tidak bisa meninggalkan kuliah saya di kala itu. Jadi, ya begitu…

1509060_10202873562508123_343825949994635586_n

Tapi alhamdulillah, beberapa bulan setelah beliau melahirkan saya ke Padangpanjang dan beliau masih di Padangpanjang, setidaknya rasa bersalah itu terobati, namun tetap tak tergantikan.

Sumber foto: kak Ulva

– Pernikahan Teman SMP :
Ihsan (Sept 2014)

Ini juga moment penting yang tidak kalah pentingnya dibanding acara pernikahan yang lain. Bukan karena Ihsan itu history, tapi bagi saya, Ihsan adalah teman, abang, dan guru peralihan yang suka menasehati dan memotivasi saya dari yang alay-alaynya hingga menjadi dewasa seperti sekarang ini #tsah. hahaha. Jangan dibawa serius.

Maaf, dikala itu kita terpisahkan oleh kelok sembilan. Sayanya di Pekanbaru, kaliannya di Padangpanjang. Saya tidak mungkin meninggalkan penelitian lalu ke Padangpanjang, dan Kalianpun tidak mungkin melaksanakan acara pernikahannya di Pekanbaru. Hahaha…. Jadi ya, begitu…

1509783_754663607949894_7735513761568151810_n

Mereka terlihat bahagiaaaa banget ya, serasi, senaaaang gitu kalau melihat mereka. ah, cocok lah pokoknya.

Sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan Ihsan, semoga Ihsan memaklumi dan memaafkan atas ketidakmungkinan saya menghadiri acara pernikahannya.. Happy Wedding Day untuk Ihsan dan Kak Mona. Bahagia selalu, dan segera sayanya dapat ponaan baru. Amin..

Sumber foto: Ihsan

– Pernikahan Teman SD:
Husna (3 Jan 2015)

Husna adalah salah satu teman terbaik yang saya kenal. Orangnya baik, pintar, mau dan bisa bergaul dengan siapa saja, cantik, sholeh. Semua yang terbaik ada padanya. Enam tahun bersama di sekolah dasar dan saya cukup mengenalnya.

11050138_1100300229996729_3643857324951607914_n

Jujur, saya dapat infonya mendadak. Dan dikala itu, saya berada di Pekanbaru dan sedang sangat super duper sibuk mempersiapkan untuk seminar hasil. Dan, ya jadinya begitu. Namun, do’a teriring untukmu, Husna.

Sumber foto: Husna

– Pernikahan Sepupu:
Unang (9 & 10 Jan 2015)

Oke, kali ini saya berkesempatan untuk pulang ke Sumatera Barat, karena memang urusan mendaftar seminar sudah kelar. Optimis bisa menghadiri acara sepupu, jadi ceritanya begitu. Saya pun pulang ke Padangpanjang tanggal 6 Januari (Selasa).

Namun kabar burung di hari Rabu (tanggal 7) adalah: jadwal seminar hasil saya tanggal 12 (Hari Senin). Otomatis menyerahkan berkas ke dosen penguji hari Sabtu (tanggal 10) donk,? Mau tidak mau saya harus di Pekanbaru hari jum’at (tanggal 9), karena ada bagian dari laporan penelitian yang mau diperbaiki. Tenang, sekali lagi itu hanya kabar burung. Oke, saya tenang.

Tapi kenyataannya adalah BE.GI.TU.😦  Kamis pagi jadwal seminar saya keluar, Kamis malam saya berangkat ke Pekanbaru. Jum’at pagi langsung bantai di depan printer, Sabtu mengantar laporan penelitian ke dosen penguji. Dan di hari Sabtu inilah akad nikah berlangsung. Saya tidak bisa menghadirinya… #ouh

Kan bisa hadir di resepsinya pas hari Minggu? Iya, kalau saya tidak seminar di hari Senin.10996595_923082134369677_2779904899963851892_n

Setidaknya, walaupun saya tidak bisa hadir di HariH, saya ada di H-1.

Semua bisa memaklumi dan alhamdulillah, acaranya Unang berjalan lancar. Seminar saya juga berjalan lancar…

Sumber foto: Unang

– Pernikahan Teman Kuliah:
Phivi (11 April 2015)

Bahkan ketika resepsi pernikahan berlangsung di Pekanbarupun, saya masih tidak bisa menghadirinya. Karena ada suatu urusan yang harus saya urus di Padangpanjang, sehingga saya harus ke Padangpanjang pada tanggal 7 April hingga waktu yang tidak ditentukan.

Tidak ingin melewati royal wedding ini, sayapun mengikuti dari dokumentasi yang diupload oleh teman-teman. Rasanya bahagia gitu. Phivi terlihat ‘plong’, sudah wisuda, menikah dengan pria yang mapan? Apalagi cobak? Tinggal mengabdi pada keluarga. Ah, saya iri melihatnya.

Sama dengan Husna, Phivi juga orang yang bisa bergaul dengan siapa saja. Meskipun saya mengenal phivi sejak awal kuliah tapi kami lebih dekat beberapa bulan belakangan. Kami saling berbagi, berbagi pengalaman hidup, curhat, penelitian, urusan kampus, dsb.

Permintaan maafpun saya salurkan dalam sebuah video:

Picture1

Sumber foto: temannya Phivi

– Pernikahan Teman KKN:
Iki (12 April 2015)

Sama alasannya dengan pernikahannya Phivi. Terpisahkan oleh jarak PKU-Padangpanjang. Iki adalah salah satu teman terbaik yang pernah saya miliki. “Konco arek” di masa KKN hingga sekarang. Komunikasi masih berjalan lancar meskipun kami hanya bertemu sesekali. Iki orangnya baik, baik banget. Pokoknya, sohib banget lah.

mendadak speechless.

dan Teganya, saya tidak menghadiri acara pernikahannya. Kadang disitu saya merasa sedih, saya merasa bersalah. Dan kalau bukan karena melihat foto beliau, mungkin postingan yang anda baca ini tidak ada.

11116464_811928882209287_1007779328429185437_n

Ini adalah pelajaran untuk kita semua. Harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang menjadi korban. Berada pada dua pilihan yang sulit dan harus memilih. Antara masa depan saya, atau melihat teman bahagia.

Sumber foto: temannya Iki

– Pernikahan Teman SD:
Ari Tile (13 April 2015)

Waktu SD pernah ejek nama orang tua? lari-larian untuk menyentuh kepala? Ya, begitulah aku dengan Ari. Semasa itu, waktu kami masih SD. Berapa tahun yang lalu itu ya? Dua belas tahun yang lalu. Apa? 12 tahun yang lalu? Sudah setua itukah saya?

Acaranya sih memang di Padangpanjang, dan saya sedang berada di Padangpanjang. Tapi, em… jadi begini, tanggal 14 saya ada tes, jadi tanggal 13nya berarti harus belajar donk, right? Lagian saya tidak ada teman untuk datang. Akarnya sih cuma satu sebenarnya untuk acara yang ini. Taukan itu apa? A, ya benar.

*image not found*

Oke, demikianlah kegagalan-kegagalan menghadiri pesta pernikahan yang sakral. yang hanya satu kali seumur hidup mereka. Amin. Semoga tanpa saya, tidak mengurangi kebahagiaan mereka. O, memang tidak ya. Hehehe

Semoga mereka bahagia selalu, diberikan keturunan yang sehat, sholeh/sholehah dan pintar. Amin

Semoga rezeki mereka lancar. Amin

Semoga mereka bisa mengemban amanah yang baru. Amin

Semoga pernikahannya berkah. Amin

Semoga mereka bersama di dunia dan akhirat. Amin Yaa Robbal Alamin

dan yang terpenting adalah, do’akan saya cepat menyusul. hahaha

Saya, Imelda Dewi Agusti.
Mohon Maaf Lahir & Batin

Comments on: "Tidak Bisa Hadir Di Acara Pernikahannya…??? Forgive me" (4)

  1. memang semua tidak bisa disalahkan… menyesal… saya bahkan tidak lagi diajak nongkrong sama teman sebangku karena tidak dapat hadir ke pernikahnya… pasti punya alasan masing-masing

    • Astaga, sampai segitunya. Tapi nggak apa-apa lo, mbak. Itu pertanda beliau sangat mengharapkan kehadiran Mbak Amorta. Semoga suatu hari nanti teman mbak itu bisa mengerti situasinya. Percayalah, teman mbak hanya butuh waktu…..

      • iya mungkin… saya berharap bisa memperbaikinya namun mungkin terlambat… saat itu memang bertepatan ulang tahun keponakan saya yg ke 17 saya yg mengurusi decor….dan juga saya baru pulang dari yogya… seperti selfish namun kendaraan juga tidak ada di rumah.

      • Smoga niat memperbaiki silahturahminya bisa tercapai ya, mbak🙂

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: