Blog ini seperti eskampiun….

Sebelumnya, Seminar Proposal “21”

Begitulah suasana sesaat sebelum Imelda Seminar Hasil.

Dengan mengenakan kemeja polos putih, dikombinasikan dengan rok hitam, dan jilbab yang juga berwarna hitam. Sepatu berwarna coklat, dengan stoking pendek bermotif bercak-bercak coklat sebagai perantara antara kaki dengan lantai. Tidak lupa, sedikit taburan bedak baby johnson dan lisptik pixy P. 05 berwarna merah jambu. Kini Imelda terlihat lebih fresh dan lebih siap untuk menghadapi hujatan pertanyaan dari para dosen penguji. Tidak lupa Imelda memohon do’a restu kepada kedua orang tuanya via telpon.

Imelda dan kawan-kawan berjalan menuju ruang seminar. Di dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 5 meter, terdapat beberapa meja beralaskan warna hijau. Jika dilihat dengan seksama, terdapat  Infocus yang digantung di langit-langit ruangan dengan modus stand by, ia siap untuk membantu siapapun mempresentasikan proposal/ hasil penelitian. Tidak terkecuali hasil penelitian Imelda.

Sekarang sudah menunjukkan pukul 10.50 WIB, masih belum ada satu orang dosenpun yang datang. Teman-teman yang lain menyuruh Imelda menghubungi para dosen. Jelas saja Imelda tidak mau, ia sengaja mengulur-ulur waktu.

11.10 WIB. Meja hijau di tengah ruangan, yang dilengkapi dengan tujuh buah kursi, kini telah ditempati oleh beberapa orang:

  1. Di kursi penyaji, telah duduk seorang mahasiswi bernama Imelda Dewi Agusti. Duduk di kursi ‘panas’ yang akan menopang tubuhnya selama 1,5 jam kedepan. Kursi penentuan perjuangan kuliahnya selama 4,5 tahun (sudah termasuk penelitian 1 tahun). Kursi yang akan merubah nama Imelda di hari ini.
  2. Di kursi ketua seminar, telah duduk seorang dosen yang cantik. Ibuk Ivnaini Andesgur ST M Eng yang merangkap sebagai moderator. Ibuk ini akan mengarahkan alurnya seminar dari awal hingga selesai.
  3. Di kursi pembimbing 2. Seharusnya telah duduk seorang Dosen Sipil berkacamata. Ibuk Lita Darmayanti ST, MT berhalangan hadir karena sedang menuntut ilmu di universitas teknik nomor satu di negri ini, ITB (Institut Teknologi Bandung). Semoga beliau sukses dan segera menyandang gelar S3. Amin. Kita do’akan saja. Ide penelitian ini adalah hasil pemikiran beliau. Penelitian ini adalah penelitian yang membangun dan menjatuhkan namun akhirnya membangkitkan.
  4. Di kursi pembimbing 1, telah duduk seorang dosen yang sedikit berperawakan Cina. Bapak Edy Saputra MT, PhD. Dosen yang mendapat gelar S3 dari Curtin University di Australia ini tidak hanya membimbing dalam ruang lingkup antara peneliti dengan yang diteliti. Tapi juga antara peneliti dengan yang Maha Teliti.
  5. Di kursi penguji 1, telah duduk dosen penguji yang paling Imelda takuti. Dosen kimia, Ahmad Fadli, MT, Ph. D yang akan menanyakan seluk beluk dan sedetail-detailnya penelitian. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang awalnya tak terpikirkan. Dan jika semua pertanyaan tersebut bisa Imelda jawab, skripsinya akan menjadi skripsi terbaik yang pernah ada. Namun sayang sekali, tidak semua pertanyaan itu bisa terjawab. Pengetahuan dan sumber bacaan yang masih terbatas. Sebenarnya bisa disiasati dengan cara berdiskusi. Tapi, ketakutan lebih besar dari keinginan. Sebenarnya apa sih yang ditakutkan? Takut dicemooh? Takut terlihat bodoh? Takut diabaikan? Entahlah, yang jelas Imelda tidak pernah berdiskusi dengan bapak ini dan juga bapak-bapak penguji yang lain. Sungguh ini adalah ketakutan yang keliru. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk yang lain.
  6. Di kursi penguji 2, telah duduk seorang dosen yang juga berperan sebagai dosen wali/ dosen pembimbing Imelda. Bapak Drs. Edward HS MS. Dosen senior yang terkenal dengan keramahan dan kedisplinannya ini awalnya juga ditakuti oleh Imelda. Tapi untuk seterusnya, bapaknya baik. Bahkan Imelda pernah dua kali menjadi asisten praktikumnya. Juga pernah diajak bergabung dalam proyek bioporinya. Semoga diberi kesehatan selalu kepada bapak yang satu ini. AMIN
  7. Di kursi penguji 3, masih terlihat kosong. Seharusnya disini telah duduk seorang dosen muda. Tapi, Imelda mendapat kabar bahwa bapaknya sekarang sedang berada di perjalanan menuju kampus. Kita do’akan saja bapaknya sampai dengan selamat. Amin

“Baiklah, untuk tidak memperpanjang waktu, seminar hasil pada tanggal 12 Januari 2015. DIMULAI”, kata buk Andes membuka acara seminar.

Deg-degan bukan main. Wajah-wajah lembut dosen penguji mulai terlihat sangar. Wajah dosen pembimbingpun mulai jadi pertaruhan, antara menaikkan atau menjatuhkan wajahnya. Cukup. Cukup saat seminar proposal saja Imelda ‘mempermalukan’ dosen pembimbing. Kali ini jangan. “Ya Allah, jangan sampai ada kecewa di wajah dosen pembimbingku. Ku mohon”.

kemudian buk Andes menjelaskan alur acara seminar.

“Seminar terdiri dari 4 sesi. Sesi pertama, presentasi seminar oleh penyaji selama 15 menit. Sesi kedua, sesi Tanya jawab. Masing-masing dosen penguji diberikan waktu 15 menit. Sesi ketiga adalah diskusi dosen untuk penentuan lulus/ tidak. Sesi keempat, pengumuman lulus/ tidak.”

Bismillahirrohmanirrohim” Imelda memulai mempresentasikan hasil penelitiannya setelah dipersilahkan oleh ketua seminar –Buk Andes–

slide cover

skide LB

“Terimakasih kepada ketua seminar atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan. Terimakasih kepada dosen pembimbing dan dosen penguji yang telah hadir, dan seterusnya kepada teman-teman. Assalamu’alaikum Wr.Wb. Baiklah, pada kesempatan kali ini saya akan mempresentasikan hasil penelitian saya yang berjudul pemanfaatan geopolimer xxxxxxxxxx untuk mengolah xxxxxx gambut. Air gambut merupakan bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla….. “

Setelah menjelaskan Bab 1, pemilik singgasana kursi ke 7 datang. Bapak Aryo Sasmita ST, MT. Imelda semakin deg-degan. Namun ia harus melanjutkan presentasi. Presentasi berlanjut dan berakhir kurang dari 15 menit, semua slide berhasil dipresentasikan. Presentasi yang cukup memuaskan.

penutup

Acara selanjutnya adalah, hujatan pertanyaan. Tu, kan pertanyaannya susah-susah. Sudah Imelda tebak sebelumnya. Dengan wajah yang tetap bersemangat, mood booster yang selalu menyemangati. Wajah para penonton yang seolah menggambarkan:

Ayo kakak, kamu pasti bisa.!”,
Ayo Imelda, kamu bisa menjawabnya”,

wajah dosen Pak Edy yang bertuliskan “jangan permalukan saya”,

Hahahah,… semuanya terasa menyemangati. Warna biru di dinding ruangan ini, seolah menetralisir suasana panas. Belum lagi satu pot bunga plastik di atas meja di atas meja seolah memberi ketenangan.

Alhamdulillah, semua pertanyaan bisa dijawab. Minimal dengan jawaban:
“Ya, pak. Pembahasannya tidak sampai kesana”

“Ya, pak. Nantik diperbaiki”

Over all, Imelda menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tanpa muka murung, tanpa wajah yang sendu. Kali ini ia bisa mengendalikan emosinya, mampu mengendalikan ekspresi di wajahnya. Mampu tersenyum, padahal dihati cemas luar biasa. Fokus pada pertanyaan. Lebih mampu mengendalikan jawaban. Pokoknya, ini jauh lebih baik daripada saat seminar proposal. Ini jauh lebih baik. Sangat baik.

Tidak terasa, sesi pertanyaan telah habis untuk dosen penguji 3.

“Maaf, Pak. Waktunya sudah 15 menit”, kata Buk Andes

“O, sudah habis ya, buk? Tapi ada satu petanyaan lagi”, kata Pak Aryo

“Lanjut aja, Pak. Orang –Imelda–  masih semangat”, kata Pak Edy

Hahahaha,, memang betul apa yang dikatakan Pak Edy.
Tapi, Pak… gumam Imelda di dalam hati

Tahukah kamu apa pertanyaan terakhir itu? Pertanyaan yang sempat Imelda debatkan dengan rekan penelitiannya. Pertanyaan yang sebenarnya juga mengganjal di hati Imelda. Pertanyaan yang mungkin sangat membingungkan jika tidak pernah Imelda debatkan sebelumnya. Pertanyaan yang sangat menjebak. Pertanyaan yang mematikan. Pertanyaan yang akan membuat waktu 45 menit ini bakalan hancur jika salah menjawabnya. Pertanyaan yang akan meruntuhkan langit menimpa kepala. Pertanyaan yang bisa menjatuhkan Imelda sejatuh-jatuhnya. Pertanyaan yang bisa mencoreng status mahasiswi Teknik Lingkungan yang kini disandang Imelda. Ini adalah petanyaan diujung tanduk. Tidak disangka ternyata pertanyaan itu keluar juga dari mulut dosen penguji 3. Disaat out of time. Pertanyaan itu kini harus dijawab Imelda. Imelda diam, pura-pura berpikir keras padahal di dalam hati tertawa. Menahan senyum yang merekah sambil melihat rekan sepenelitian.

Ade, Ika, ini pertanyaan kita. Ini adalah hal yang pernah kita perdebatkan beberapa hari belakangan ini. Pertanyaan yang bisa saja mentransformasi penelitian kita. Pertanyaan Ade VS Imel-Ika

Imelda menjawabnya, jawaban mengalir begitu saja dari mulut Imelda. Jawaban yang penhu dengan keyakinan, tanpa gugup, tanpa ragu, tanpa ‘pengawet’, dan tanpa ‘pewarna buatan’, alami, natural.

dan yeeyeeeyeyeyeye…… Dosen penguji membenarkan jawaban Imelda.

“Ya, ternyata kamu paham pengetahuan dasar nya. Saya cuma mau mengetahui pemahaman kamu”, kata Pak Aryo

“Ya lah, dia belajar”, kata Pak Edy membanggakan Imelda.

Dan kamipun tertawa. Alhamdulillahhh,….. senang luar biasa namun Imelda tetap stay cool and cold.

Imelda dan penonton lainpun diminta meninggalkan ruang seminar, karena dosen akan berdiskusi tentang penilaian hasil penelitian.

Di luar ruangan, beberapa teman ada yang menjabat tangan Imelda, mengucapkan selamat.

“Keren, Uni”

“Selamat ya, Imel”

“Cieeee yang sebentar lagi ST cieee…”

“Yah, berkurang lah teman yang menemankan penelitian lagi nih..” dan sebagainya…

Senyuman yang saling merekah. Ucapan selamat. Semuanya dianggap Imelda sebagai do’a. Tujuh menit kemudian, Imelda dipanggil untuk memasuki ruangan, sedangkan teman-teman yang lain tetap berada di luar. Pintu di tutup rapat, Imelda dipersilahkan duduk di kursi panas yang kini terasa semakin panas. Di rungan ini hanya ada Imelda, 1 orang ketua seminar, 3 dosen penguji dan 1 orang dosen pembimbing.
“Berdasarkan hasil diskusi dengan para dosen,….”, kata Buk Andes memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah…..

Imelda,,,…

Kamu…

Dinyatakan….

alyas

LULUS.!!!!!,… “

horeeeeyyyy….

Alhamdulillah….

Terimakasih ya ALLAH….

Semuanya terasa… Ahhh,,.. tak bisa diungkapkan. Imelda lega. Puas. Senang….

Terakhir, Imelda menjabat tangan masing-masing dosen seraya mengucapkan “terimakasih….”

************

Terimakasih kepada rekan sepenelitian –Ade dan Ika–. Selalu ada disaat saya butuh/ tidak. Support kalian, do’a kalian, semangat kalian. Aku persembahkan seminar ini pada orang tuaku dan kalian. Aku berhasil sejauh ini karena kalian, berkat kalian.

Siang itu di Kantin Teknik, kita bertiga pernah ‘membedah’ geopolimer. Kita bisa, guys. Kita bisa.!!!

Comments on: "Seminar Hasil “12”" (3)

  1. […] di dalam kategori keSARJANAan… mulai dari 99 hari mengejar sarjana, seminar proposal 21, seminar hasil 12, dan cuplikan PRA KATA di dalam skripsi […]

  2. It’s appropriate time to make some plans for the future and it’s time to be happy. I’ve read this post and if I could I desire to suggest you some interesting things or tips. Maybe you could write next articles referring to this article. I want to read more things about it!|

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s