Blog ini seperti eskampiun….

Bersama Dosen Pembimbing 1

Jam 10, bertemu dengan dosen pembimbing 1 untuk berdiskusi tentang komposisi bahan penelitian kami –aku dan Ika-. Cek ulang hitung-hitungan. Menentukan angka-angkanya dan oke, kami -aku, Ika dan DP1- sudah mendapatkan formula yang ada pada penelitian sebelumnya.

Karena aku lapar, Ibuknya ada agenda lain lagi, jadi untuk sementara diskusi cukup sampai disini dulu. Dilanjutkan nantik siang jam 14.30. Kami istirahat makan. Dan kemudian aku dan Ika berdiskusi. Pusing, bertanya-tanya, berdiskusi dengan Ika, berdebat, berfikir. Dapat pencerahan, ternyata bukan. Semakin kami membahasnya semakin pusing. Dapat pencerahan, langsung ke lab. Hitung-hitungan lagi, telpon Ibu.

Jam 14.30 ke ruangan Ibuk. Untungnya DP1 belum datang, berfikir keras. Dapat pencerahan lagi. DP1 datang, berdebat. Boleh dibilang, kali ini aku keras kepala. Karena menurutku, pendapatku benar. Memang harus aku habis-habisan bertanya pada ibuk. Karena ini menyangkut penelitianku. Ini menyangkut pengujian, maka aku harus kritis. Cek dan ricek, ternyata pemahamanku yang salah. DP1 benar. Namun dari hasil diskusi ini, kami mendapat satu kesepakatan formula yang baru.

Tidak terasa, waktu berlalu. Sudah jam 17.00. Kamipun mengakhiri diskusi.

Ika: Buk, proposal kami gimana buk?

Ibuk: E, bukannya udah ibuk kembalikan?

Aku: Belum,buk.

Kemudian kami mencari proposal diantara tumpukan kertas-kertas diatas menja Ibuk. Tap!, ketemu. Kemudian ibuk menjelaskan dimana letak kesalahan proposalku.

Ika: Buk, proposal Ika kok nggak banyak coret-coretnya, Buk? Udah mantap proposal ika nih, buk?

Hahaha… Ibuk tetap menjelaskan proposalku. Sedangkan Ika sibuk membolak balikkan kertas proposalnya. Mencari-cari coretan DP1 di proposalnya. Tapi, memang benar tidak ada coretan.

Ibuk: Iya, kesalahan proposal kalian tu sama aja, makanya cuma satu aja yang Ibuk periksa

Ika: E, Iba lah hati Ika, buk. Proposal Ika tak Ibuk periksa (kata Ika bercanda. Hahahaah….)

Aku sangat senang hari ini. Dua kali konsultasi dengan Ibuk. Jarang-jarang konsultasi diakhiri dengan canda tawa.

“Buk, …”, kataku pelan

“Kalau tidak terkejar bulan ini gimana, Buk?”, kataku memelas. Secara, 3 bulan yang lalu. Ibuk meminta kami menyelesaikan penelitian yang di bulan juni.

Ibuk tersenyum. Kemudian ibuk mengatur jadwal kami. Aku tau, Ibuk masih berharap kami menyelesaikan penelitian bulan ini. Di balik senyumnya, dibalik tawanya. Aku tau ada kekecewaan, namun dibalik kekecewaan yang kecil itu masih ada semangat yang besar.

Ibuk, kami tidak akan mengecewakanmu…..

Kami pulang. Tau-tau aku baru ingat, malam ini harus beli alat untuk running. Segera aku hubungi Ika.

=====

Toko Alat

-: Yang ini berapa, mbak?

+: Ini 200ribu

-: Yang kecilnya nggak ada, mbak?

+: Nggak ada

-: (Iseng-iseng nanya) Kalau yang satu set ini harganya berapa, Mbak?

+: 200 ribu

-: Ha? Yang, kepalanya aja 200ribu. Kalau satu set 125 ribu. Kok malah makin murah?

(Iya, kami tau beda merk. Palingan cepat rusak. Memang iya, lagian kami cuma memakai alatnya sebentar. Nggak lama. Jadi nggak ada salahnya kalau kami membeli yang lebih murah, lengkap lagi 1 set.)

-: Mbak, boleh dilihat barangnya, Mbak?

+: Tidak bisa, Mbak. (Kecurigaan makin kuat)

-: Tapi, kalau kami bakal membeli juga, boleh kan, mbak?

+: Iya, bisa.

Kemudian kami diarahkan ke kasir untuk uji coba alat. Biarlah, Ika yang mengurus uji coba alat tersebut, sedangkan aku mengitari toko itu, memilih apa lagi yang harus ku beli.

Beberapa saat kemudian, aku kembali ke kasir. Ada Ika yang masih setia berdiri di meja kasir. Dengan kakak kasir yang bolak balik dan panik.

Rupanya iya, kecurigaan kami benar. Alatnya benar-benar jauuuuuhhhh dari bayangan. Yang nggak hidup lah. Yang nggak bisa di setting lah, yang nggak bisa dipasanglah. Yang memasangnya harus dua orang lah. Yang harus ditekan kuat-kuatlah. Yang harus lobangnya tidak pas lah. Ada komponen berkarat lah.

Astaga.. Kami memang curiga. Tapi, nggak kayak gini juga keulessss….. Parah.!

Kakaknya bolak balek ke gudang, ke depan, ke gudang. Akhirnya kami mendapatkan alat yang lebih bagus dari yang pertama tadi. Hidup tanpa karat.

Hampir satu jam kami di toko itu tapi kami puas. Puas ketawanya. Puas pula dengan uji cobanya. Pulanya, si kakak pas nguji alatnya minta bantu kami untuk membantunya menyetting alat.

“Bantu saya. Bantu saya”….

Bantu megangin, bantu tekan, dsb.

Sesampainya kembali ke kos. Aku mencoba mencatat ulang formula running, hasil diskusi tadi. E, ternyata. Ada yang mengganjal. Aku ingin mengutak atik formula tapi Petir-petir.! Aku memutuskan untuk bertahan dengan perhitungan running. Namun tumbang di atas tempat tidur.

N selamat tidur…

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s