Blog ini seperti eskampiun….

USIA MUDA?

Pagi ini, aku dan Ika pergi ke kampar. Mencari bahan untuk penelitian. Ada Ranti dan bang Heri. Mereka sangat baik. Mereka sangat membantu kami. Pengantin baru ini, sangat senang membantu kami. Ranti, juga mahasiswa UR angkatan 2010. Tapi dia sudah lulus, tinggal wisuda di bulan oktober.

Huh, berbicara tentang pengantin baru, sepertinya aku masih jauh dari hal tersebut. Pertama, aku belum selesai kuliah. Kedua, tidak ada calon. Ketiga, aku tidak mapan. Aku masih kurang dewasa. Aku masih belum bisa apa-apa. Jauh. Sangat jauh.

Untung saja, lingkungan di kampungku, tidak banyak yang menikah muda. Aku tidak terbayang jika aku tinggal di lingkungan yang rata-rata pemuda/inya menikah di usia muda. Barangkali orang tuaku bakal sedih, karena sampai sekarang anaknya masih jauh dari yang namanya menikah.

Memang ada satu orang, teman mainku di waktu kecil. Usianya 1tahun di atasku. Dia baru saja menikah tahun kemarin. Satu itu saja, aku sudah merasa tidak enak. Tidak, tidak ada yang tidak dienakkan, memang dia yang cepat menikah. Toh, dia mapan, sang pria mapan. Sama-sama sudah bekerja. Nunggu apa lagi cobak? Sekarang mereka sedang menunggu kelahiran anak mereka. Dan aku, segera memiliki ponaan.

 

Ah, sudahlah. Pembahasan malam ini dewasa sekali. Dewasa? Dewasa Sekali? Imelda, umur kamu sudah 21 tahun. E, iya ya? Rezki, Jodoh dan kematian adalah misteri. Akan ada kejutan dariNya untukku. Dan aku, memang suka kejutan.

 

Ok, lanjut tentang lokasi pengambilan bahan untuk penelitian tadi. Aku punya video. Iseng-iseng. Berikut videonya.

 

2KALI DITOLAK,
1 KALI DI PHP-IN
DAN 1 KALI DITOLAK LAGI

 

Setelah kami mendapatkan apa yang kami cari. Kemudian kami berburu sate. Sate yang konon katanya Enak.

“Satenya enak. Tidak ada di dunia ini yang menandinginya”, kata Ranti.

“Ramai, ndak?”, tanya Ika

“Iya, ramai tu”.

 

Ah, masak iya sih. Aku dan Ikapun jadi penasaran. Perjalanan dari lokasi menuju jalan besar sangat jauh. Kali ini aku akan menggunakan kata ‘sangat jauh sekali’ dan kata ‘sangat jauh’. ‘Sangat jauh sekali’ berarti lebih jauh dari ‘sangat jauh’. Sebenarnya jarak antara lokasi kami mengambil bahan dengan jalan besar hanya sangat jauh. Tapi dibuat menjadi sangat jauh sekali. Tidak apa-apa, sesekali ke kampung orang, ya tidak apa-apa. Kapan lagi kita keliling-keliling kampung orang?.

Sekitar 1,5 jam kami di atas motor dengan kecepatan 80km/jam. Sesekali 100km/jam. Kami rela berpanas-panasan, menahan sakit, capek, letih dengan bayangan semua ini akan terbayarkan saat kami memakan sate yang katanya enak sedunia itu. Mutar-mutar, clingak clinguk mencari tempat sate tersebut. Tidak ada. Ada sih, yang jual sate. Tapi bukan sate itu yang kami cari.

“E, itu ada namanya ayam printin, mel. Di print ndak ayamnya?”, kata Ika.

Kemudian kami menghubungi Yulia, yang juga tinggal di Bangkinang.

“Ya tau sate Ocu Iman?”, tanya Ika via telpon.

“Iya, tau. Enak tu. Itu di dekat rumah Iya ada”

Kemudian Yulia mengarahkan kami ke lokasinya. Setengah jam kemudian, ada. Wah ada. Akhirnya ada juga. Ini dia. Kami menemukan tempat yang dibilang Yulia. Betapa senangnya hati kami. Akhirnya, kami akan makan enak. Kami bakal makan sate. Kami akan merasakan sate terenak itu. Kami juga bisa beristirahat, berteduh. Ah, ini bakal menyenangkan.

Tapi, kesenangan itu hanya sekejap. Kami tidak melihat asap sebagaimana sate-sate lainnya, tidak ada tusuk sate, tidak ada minuman, tidak ada ketupat, tidak ada bara, tidak ada si penjual, apa lagi si pembeli. Kosong. Tempatnya kosong. Barangkali belum buka. Atau mungkin tidak buka.

Astaga.! Apa-apaan ini?

Di dalam hati: Kalau memang sate ini enak dan terkenal. Barangkali ada cabangnya.

Dan akhirnya kami memutuskan untuk makan di tempat lain saja. Beberapa ampera, rumah makan lewat begitu saja. Namun mata kami tetap masih mencari dimana tempat makan yang pas. Kami lapar. Kami capek.

“E, itu ada tempat makan? Tapi udah telewat. Yasudahlah. Lanjut saja”.

“E, itu ada juga tadi ka. Sate Ocu Iman. Tapi tutup juga”, kataku pada Ika

“E, itu juga ada. Sate Izam. Tapi tutup”, kata Ika beberapa saat kemudian. Kami tidak melihat ada yang menjual sate lagi setelah yang pertama tadi.

“E, itu ada, ka. Sate Ocu Iman. Buka”, kataku kepada Ika dan kemudian kami berhenti.

Ika: Yang betul lah, mel.

Aku: Iya, ka

Ika: Betul lah ni?

Aku: Iya

Ika: Bukak, ndak?

Aku: Bukak. Tadi ada orang di dalamnya lagi duduk. Ada air minum juga.

Ika: Yok lah, kesana kita.

Kami mundur. Ternyata aku tidak salah melihatnya. Kali ini ada ketupat. Ada minuman, ada bara. Ada si pembeli dan ada si penjual. Aku kaget, ada tulisan ‘tutup’. Ah, barangkali cuma tulisan saja. Atau baru buka.

Ika: Mbak, udah bukak?

Mbak: Satenya habis, mbak. Nantik sore aja kesini lagi.

Astaga. Pedih rasanya. 2 tempat ‘Sate ocu Iman’ yang kami lihat tadi memang nyata tutup. Memang beneran kosong. Emang tidak ada aktivitas sama sekali. Tapi kalau ini? Aaaaa… Kami di PHP-in. Kayaknya aja yang bukak, padahal tutup. Issss… KESAAAALLLL…!!!

???????????????????????????????

Kami kembali melanjutkan perjalanan

“Ika udah nggak sanggup lagi, mel. Capek badan. Nggak sanggup makan di Pekanbaru. Makan disini ajalah”, kata Ika.

Dari tadi juga kita mencari tempat makan. Mending kita makan ayam printing tadi lagi.

Tidak ada tempat makannya. Dan sampailah kami di Pekanbaru.

Aku: E, Ika. Itu ada juga sate Ocu Iman

Ika: Ah, ndak lagi doh.

Aku: Lagian itu tutup juga. O, ternyata ada juga di Pekanbaru. Heleh.!

Ujung-ujungnya, kami makan di Pekanbaru. Makan ayam krek-krek. Ah, nikmatnya……….

 

Comments on: "33: PENELITIAN + JODOH TIDAK KEMANA + SATE YANG KATANYA ENAK SEDUNIA" (1)

  1. […] ini kami –aku, Gina, Ipur dan Ika- makan sate. Tau apa nama satenya? Sate Ocu Iman. Iya, sate yang dulu pernah kami idamkan itu. Sate yang telah membuat kami kecewa. Sate yang sudah […]

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s