Blog ini seperti eskampiun….

INI TENTANG OVEN YANG KU TINGGAL

Tadi malam tidurku kurang nyenyak. Takut kenapa-napa dengan lab. Secara, oven masih hidup, karena memang ada pemanasan selama 24jam. Tapi biasanya penelitian-penelitian orang terdahulu emang nggak papa. Tapi, maklum saja ini baru pertama kalinya oven hidup di malam hari atas nama kami –aku dan ika-. Aku takut ovennya meledak. Aaaaa… jangan sampai. Awal rencana aku memang tidak akan meninggalkan oven seperti ini. Awalnya itu aku berencana meminjam kunci, biar aku bisa kontrol di malam hari. Tapi, karena analist nya bilang “yaudah. Nggak papa. Besok pagi aja ke sini lagi”. Yaudah, it’s ok.

Sesampai di rumah, aku baru ingat kalau besok itu tanggal merah. O, mungkin lab buka selalu untuk yang penelitian. O, mungkin analistnya ke kampus. O, mungkin abangnya ke kampus demi kami –hheeeee-

 ****

CUCI-CUCI, CUCI-CUCI… Sabun kamu lelet ya???

Cek HP, tidak ada SMS, atau missed call. Ok, alhamdulillah. Berarti tidak ada apa-apa. Panas sekali hari ini. Bagus juga nih untuk menjemur kain. Ok, diawali dengan mencuci baju. Selesai mencuci baju. Lihat sepatu, ini juga harus dicuci. Oia, hari ini aku mau ke kampus. Cuci sepeda juga lah. Cuci cuci hari ini telah menguras tenagaku. Sekarang sudah pukul 8.30. Aku mandi dan kemudian sarapan dengan lotek yang sudah dibelikan Lala. Makasih, Lala onion-emoticons-set-6-12. Selamat makan onion-emoticons-set-6-96

 ***

MISTERI LAB.

HPku berbunyi, ada SMS rupanya

09: 47: 16 Kak, ini v***. Kakak ke lab hari ni?

Iya, dek jadi jam setengah 11

09:49:03 Ohh iyaa kak. Kunci di *o**k *i****k yang diatas tu kak

Ok. Makasih infonya ya v*** ya

Setelah sarapan, aku mengerjakan tugas besar PAM. Sepertinya ini masih ada yang salah, harus diperbaiki. Gimana ya cara memperbaikinya? Hari ini dosennya akan mengajarkan EPANET kepada kami, jam berapa ya? Jam setengah 11 atau jam sebelas? Sekarang sudah jam 11.29. Print tugas besar PAM apa adanya sajalah. Eia, aku baru mendapatkan ide untuk penyelesaian tugas besar PAM. Tapi, jam berapa ya dengan bapak itu? Ah, pikiranku bercabang, setengah ke EPANET, setengah lagi ke tugas besar PAM.

Aku SMS irpan.

Aku: Pan, jadi belajar Epanet dengan bapak hari ini? Jam setengah 11 atau jam 11?

Irpan: Jadi, mel. Sekarang. Jam setengah 11. Cepat ya

Ya ampun ini sudah jam berapa. Segera aku bersiap-siap ke kampus.

Aku: Di ruang mana, Pan?

Irpan: di D

Aku berangkat. Ku kayuh sepeda, namun singgah dulu sebentar ke lab. dulu. Ada sesuatu yang mau aku kerjakan. Aku sendiri karena Ika sedang berada di luar kota. Iseng-iseng aku mengambil video mulai dari pintu yang nggak bisa di buka >> ambil kunci >> buka pintu >> langsung pergi ke oven >> Aku mematikan ovennya >> aku meletakkan camdig di atas meja, agar bisa mengambil gambar saat aku membuka oven >> Mengeluarkan hasil running >> dan O…

O.? Apa.? Apa itu?

Di sebelah kiri aku melihat tutup desikator di lantai dalam keadaan pecah. Ha? Aku kaget. Tapi aku tidak terlalu mengambil pusing. Yang aku tau aku harus segera ke ruangan D. Segera aku menelpon analis dan melaporkan apa yang terjadi. Kunci tidak aku tinggal di *o**k *i****k, tapi aku bawa. Lab sekarang menjadi tanggung jawabku. Analisnya juga menyuruhku untuk memegang kunci itu. Aku segera ke ruangan D.

Telat, tapi sepertinya pelajaran EPANET baru dimulai.

2 jam berlalu. Pelajaran EPANET sudah selesai. Aku minta ditemankan oleh Marli ke lab. karena ada yang mau aku urus dengan hasil runningku. Ini adalah pelajaran bagiku. Dalam islam, wanita tidak boleh berjalan sendirian. Ini pelajaran bagiku:

‘jangan pernah sendirian, karena kita tidak akan tau apa yang akan terjadi’

Terimakasih untuk Gina, Irpan, Marli, Ika, Ibuku yang sudah menemaniku dalam kekhawatiran ini. Khawatir kalau kalau aku yang disalahkan.

Aku: Aku takut lho Marli, kalau aku nantik di tuduh yang mecahinnya.

Marli: Emang imel udah dituduh?

Aku: Nggak

Marli: Yaudah, ngapain dipikirin sekarang. Itu bisa jadi analisnya yang harus bertanggungjawab lho. Kenapa dia ninggalin kunci ke mahasiswanya.

Aku lega mendengar apa yang dibilang Marli barusan.

Aku juga tidak mengonfirmasi ke v*** apa yang aku lihat di lab. Biarlah aku Cuma melapor ke analis saja.

 ***

‘BAGAIMANA KALAU ICHA NGELANGKAHIN KAKAK?’

Sesampainya di rumah, aku makan siang. Ngangkat jemuran. Kepalaku sakit.

Telponan dengan Icha. Rupanya Icha sedang berada di Bandung. Ada acara dengan teman-temannya.

“kak, tapi icha nio carito. Tapi ndak mungkin Icha caritoan kini do. Cluenyo, malangkahan akak.” (Tapi icha ada mau cerita, kak.Tapi nggak mungkin Icha cerita sekarang. Cluenya adalah melangkahi kakak)

What’s? Aaaaaa… hahaha…

Kepalaku masih sakit. aku tidur.

Mandi, kemudian sholat magrib. Pesan makanan untuk makan malam ini. Dan kemudian Hpku berbunyi. Ada SMS, dari nomor yang mengatasnamakan v*** tadi.

18: 56: 32 Kakak td jadi ke lab?

Lho, kenapa dia bertanya aku jadi ke lab/ tidak? Ada urusan apa dia memangnya? Aku rasa sih ada kaitannya dengan apa yang aku lihat tadi pagi. Tapi nggak tau juga lah ya. Aku bingung, SMS ini dibalas apa tidak. Tau tau ada yang memanggil kak Gina, kak Gina…

***

KISAH PERIH KETIKA MENJELANG MAKAN DI MALAM JUM’AT PURNAMA

Aku: Kak Ginanya lagi pergi, dek.

Anggi: Kak imel, boleh pinjam HP? HP mamak hilang, kak.

Sejak kapan pulak di raudha ada kehilangan? Kayaknya nggak mungkin deh.

Aku: Yaudah dek, pakai aja.

Hpku berbunyi. Ada SMS yang masuk.

Anggi: Kak, ada SMS

Aku: Yaudah, biarin aja.

Setengah jam berlalu. Anggi yang berusia sekitar 8 tahun itu datang ke kost, mengembalikan Hpku. Makananku mana ya? Kok belum datang juga. Kepalaku masih sakit. Aku mengganjal lapar dengan minum susu dan dilanjutkan dengan makan permen karet.

Menonton TV, sesekali aku mendengar suara Ibuk yang marah dari luar pagar. Aku berdiri di teras kost dan ternyata iya. Ibuk kost sedang memarahi anaknya. Aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi aku tidak mau ikut campur.

Beberapa saat ibuk yang kehilangan HP datang. Ia menceritakan apa yang terjadi. Ia meminta bantuanku untuk menasehati anaknya.

…Anak gadisnya yang bernama P*tri itu keluar meminta izin kepada Ibunya untuk belajar kelompok mengerjakan tugas bahasa arab bersama Dan*a. Pas sampai di rumah, Ibuk mengecek Hpnya P*tri lalu menelpon Dan*a.

Ibuk: Dan*a tadi pergi bersama P*tri?

Dan*a: Nggak ada Dan*a pergi sama P*tri do, buk

Begitu juga dengan temannya yang lain. Selanjutnya ibuk ngecek SMS. Ada SMS yang bertuliskan:

Jemput aku. Aku tunggu di depan Gian*

Kemudian ibuk menelpon lelaki itu.

“Iya, buk. Tadi saya pergi sama p*tri. Berdua aja.

Tentulah seorang ibu panas. Anaknya sudah membohonginya. “Ibu siram dia pakai air panas, mel”, kata Ibuk kepadaku.

“Ini bukan yang pertama kalinya ni, mel. Udah sering dia seperti ini”, kata Ibuk dengan suara serak dan menahan tangis. “Cobak lah imel bilang sama si P*tri tu, nasehatin dia, Mel”.

Aku dan Dita, mengajak bicara P*tri. Pesananku datang, ingin rasanya aku langsung makan. Aku lapar sih. Tapi, sepertinya P*tri lebih lapar akan nasehatku daripada perutku.

“Pergi belajar, kak. Belajar juga, abis tu jalan-jalan. Awalnya P*tri memang pergi belajar, teman cewek yang jemput kesini, kak. Abis tu P*tri diajak teman MTs, ada teman yang ulang tahun.  Trus pulangnya P*tri diantar sama cowok ke rumah. Nampak lah sama Mamak (=Mama). Mamak marah, kak. P*tri udah jelasin ke Mamak. Tapi Mamak nggak percaya, kak.”

Aku tau, Ibuk tu memang pemarah. Untuk sementara aku percaya sama P*tri.

Aku: Iya, P*tri di siram sama Ibuk?

P*tri: Iya, kak…

Aku: Yang mana?

P*tri: Ini, kak.

Putri mengangkat lengan bajunya. Ya Allah, seram. Kulitnya melepuh, bengkak.

Aku: Itu airnya dari termos atau gimana, P*t?

P*tri: Air nya dimasak mamak, kak.

Malam jum’at ini terasa semakin menyeramkan. Aku tidak menyangka ibuk seseram itu.

Aku: udah makan, P*t?

P*tri: Belum, kak.

Aku: Yok makan kita

Rencana, aku ngajakin dia makan, biar aku makan juga jadinya. Kemudian Dita memberi obat oles untuk P*tri. Selanjutnya aku dan Dita pergi ke rumah Ibuk. P*tri tetap tinggal dulu di teras kost.

“Ada apa, mel?”

Ha.? Ada apa? Waduh, nyaliku kok makin ciut dengan pertanyaan itu. Ada apa? Aku terdiam.

“Jadi gimana, Buk. Putrinya tidur di kost atau bagaimana?”, tanyaku.

“Nggak usahlah, mel. Biarlah dia tidur disini”, kata Ibuk sambil menahan tangis.

“Apa dia bilang, mel?”, tanya Bapak.

Aku menceritakan semua yang diceritakan sama P*tri.

“Boong dia tu, mel. Tadi ibuk tanya pergi sama siapa? Sama Dan*a. Ibuk telpon Dan*a, nggak ada. Dia pergi pacaran tu, Mel. Ibuk takut dia tu kenapa-napa. Dia tu perempuan, nantik ber’bekas’ seumur hidup. Rencana mau ibuk siram mukanya, mel. Tapi nggak sampai hati ibuk, mel. Daripada dia dirusak orang, biarlah ibuk sendiri yang merusak anak ibuk, mel. Teman ibuk banyak di luar sana, nampak P*tri sama cowok. Ibuk kadang nengok di tipi yang inilah yang itulah. Seram nengoknya. Kadang ibuk nampak di jalan orang tu gimana-gimana pacaran, rasanya mau ibuk tarik mereka. Tapi ibuk ingat, anak ibuk ntah gimana pulak. Kan nggak tau, kita. Ibuk kayak gini, bolak balek kerja untuk dia juga. Dia selalu gitu tu, mel. ‘Nggak ngulang, mak’ tapi diulangnya lagi. Kadang dia SMSan sampai larut malam, mel. SMSan kau, P*t? ‘Nggak, mak’. Tapi ibuk lihat dibawah bantalnya ada HP. Nggak taulah ibuk harus bagaimana lagi, mel. Dibebasin salah, dikekang salah. Udah nggak bisa lah dia dibilangin lagi, mel. Sampai-sampai bapak udah mukulin dia. Nggak didengerin dia ibuk lagi, Mel. Ibuk sekolahin dia disekolah agama tapi makin menjadi jadi dia, Mel. Mau ibuk masukkan ke pesantren, ibuk nggak ada duit. Biayanya mahal. Kalau diulangin juga, Ibuk kirim dia ke kampung Bapak. Biar dia nggak sekolah. Suruhlah dia pulang, Mel. Biarlah ibuk bapak nantik nasehatin dia.”

Aku pergi ke teras, menyuruh P*tri Pulang.

Aku tidak tau yang benar yang mana. Ibuk atau P*tri?. Tapi, bagaimanapun Ibuk lebih tau bagaimana anaknya. Ibuk memang keras, tapi itu juga demi anaknya. Ibuk memang keras, sebanding dengan kenakalan anaknya. Aku percaya, semua Ibu menyayangi anaknya. Caranya saja yang berbeda.

A, sudahlah. Aku sudah cukup pusing dengan urusanku. Aku masih lapar. Sudah ada ayam tumis rawit yang menunggu. Aku makan. Ah, nikmatnya makanan ini. Beginilah kalau lapar, aku gitu orangnya.

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s