Blog ini seperti eskampiun….

Ketika keadaan tidak mendukung

Pagi ini aku sangat semangat ke perpustakaan. Bahkan sendiripun di perpustakaan aku mau. Mencari bahan untuk tugas besar dan proposal penelitian. Apa boleh buat, semangat dan keadaan tidak balance. Bahan yang ku cari tidak ku temukan. Dari jam 9.00 hingga jam 14.00 tidak ada yang dicari, tidak sesuai dengan harapan dan aku kecewa. Dari pada terlalu sia-sia ke Perpus, jadinya aku dan Ika meminjam satu buku

Semangat yang menggebu-gebu akhirnya pudar, terbuang sia-sia. Panas terik matahari, kayuhan sepeda, beratnya tas yang aku bawa dan kesendirian di perjalanan dari perpustakaan ke kost telah mengadsorpsi semangat-semangat itu. Aku lelah, aku capek.

Mungkin karena efek tadi pagi, sore dan malam harinya aku tidak mengerjakan apapun. Aku hanya nonton, makan, dan tertawa hahahaha heheehehe dengan Gina dan Dita. Mungkin inilah weekend

=====

Memberi > Menerima

Video ini sangat menarik. Penampilan hanyalah bentuk fisik. Kekayaan hati adalah kekayaan yang sebenarnya. Aku ingat kata si Marli, “kekayaan di ukur dengan uang? Uang adalah ciptaan manusia”. Sebenarnya video ini sudah lama aku download, waktu itu Riki yang mengupload di akun facebooknya. Better I share lah video yang I maksud tu, hope you semue like same video ni…. Now, you semue duduk en simak video ni baik-baik… This Boy Never Saw His Dad As An Inspiration, Until He Found Out His Big Secret!

=====

Mereka, seperti kami

 

Malam ini aku membeli makan malam di luar.

“Pak, pesan mi goreng dua bungkus ya, Pak”.

Duduk menunggu sambil menonton TV. Aku mendengar suara anak-anak. Mereka bergelut, tertawa, bercerita di dalam kamar sampai terdengar keluar. Aku jadi teringat rumah, kami –aku dan adik-adikku- biasanya bercerita sebelum tidur. Icha –adekku yang pertama-, selalu saja bercerita. Bercerita tentang banyak hal. Dia punya stok cerita yang banyak. Cerita tentang kelasnya, kampusnya, nilainya, cintanya, temannya, organisasinya, seniornya,dan sebagainya. Cerita horror juga ada. Aku suka mendengar dia bercerita, tertata, humor dan mudah dipahami. Kami bercerita hingga kena marah. Sampai-sampai kami mendengar suara:

“Tidur lagi, Cha. Udah malam. Besok lagi lanjutin ceritanya”, begitulah kata papaku atau ibuku kalau sudah jam 21.00 kami masih bercerita.

Kami sering diomelin, disuruh tidur gitu. Apakah kamu mengira dia akan berhenti bercerita? Tentu saja TIDAK. Dia tetap bercerita dengan berbisik. Hahaha… Aku merindukan adik-adikku, merindukan rumah, merindukan ibu dan papa. Aku mau pulang. Aku kangen rumah. Aku kangen semuanya.

 

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s