Blog ini seperti eskampiun….

Saat perkuliahan persampahan [maklum, mahasiswi teknik lingkunganonion-emoticons-set-2-18], tragedi longsor sampah di kota Bandung ini sering menjadi contoh. Bagaimana sih kejadiannya? Berikut keterangan yang saya dapatkan dari alpensteel.com:

Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah yang mengakibatkan tewasnya 156 warga di sekitar TPA pada tanggal 21 Pebruari 2005, menjadi catatan sejarah buruk bagi masyarakat Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Hujan deras yang mengguyur selama 3 hari berturut-turut, menyebabkan timbunan sampah Sekitar 2,7 juta meter kubik longsor menutupi wilayah permukiman penduduk.

Seminggu setelah kejadian ini, sampah ditiga wilayah, terutama Kota Bandung dan Kota Cimahi tidak terangkut karena tidak ada tempat untuk membuang. Kota yang mendapat julukan kota kembang ini berubah menjadi kota sampah. Sampah menumpuk ditempat TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dan dipinggir-pinggir jalan.
Pemkot Bandung dan Cimahi menjadi panik, karena kesulitan mencari tempat pembuangan sampah. Kepanikan ini sangat beralasan karena Kota Bandung akan menyelenggarakan hajat internasional dalam rangka memperingati Konfrensi Asia – Afrika. Peristiwa ini menjadi sangat luar biasa, dimana pemerintah Kota Bandung menerapkan DARURAT SAMPAH. Sesuatu yang tak lajim, karena istilah darurat bisasanya dikenakan kepada peristiwa yang luar biasa, seperti Bencana Alam dan Peperangan.

Kelalaian dalam pengelolaan yang menjadikan sampah menjadi bencana
Bencana ini merupakan bencana beruntun yang dialami Indonesia. Menurut Andre Vltchek seorang jurnalis Amerika, bencana yang banyak terjadi di Indonesia tidak hanya faktor alam semata seperti Gunung Merapi, Tsunami, tapi juga faktor yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Benar apa yang dikatakan Mahatma Gandhi bahwa Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak. TPA Leuwigajah merupakan salah satu bencana yang disebabkan kelalaian, ketamakan manusia.

Kasus longsornya TPA Leuwigajah bukan yang pertama kali. TPA Leuwigajah sebelumnya telah terjadi longsor pada tahun 1992, namun tidak menimbulkan banyak korban seperti tahun 2005. Tanda-tanda gagalnya sistem yang ada di TPA sudah terlihat dengan tidak berfungsinya TPA lain yang ada di Kota Bandung seperti TPA Cicabe dan Jelekong karena telah habis masa pakainya, sementara TPA Sarimukti berada lebih jauh dari TPA Leuwigajah. Maka sampah yang ada di Kota Bandung dibuang ke TPA Leuwigajah dan dijadikan TPA Pusat oleh tiga wilayah (Kota Bandung , Kab Bandung, dan Kota Cimahi).

Peristiwa longsor TPA Leuwigajah tidak akan menjadi mimpi buruk dan mencoreng Bandung sebagai kota Sampah jika penanganan sampah dikontrol dengan baik. Sampah setiap hari datang ke TPA Leuwigajah lebih dari 4.000 ton. Sampah ini datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung serta Kota Cimahi. Sampah Kota Bandung rata-rata antara 6.500 sampai 7.500 m3/hari. Sampah dari permukiman merupakan penyumbang terbesar yaitu sekira 3.028 m3, disusul sampah pasar 459 m3, industri 366 m3, jalan 295 m3, fasilitas umum 184 m3, dan usaha/komersial 168 m3. Tidak terbayangkan begitu banyaknya sampah yang menumpuk dalam satu bulan di TPA Leuwigajah .

Sumber gambar: jurnalnet.com

Mau meninggalkan Jejak? Silahkan Like Pada Facebook/ Follow Pada Twitter/ Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini :) Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s